Klik VSI Yusuf Mansur

Iklan

Raibnya Magrib di Kampung Kami

Oleh : Zahraa Senja

“PAK, kenapa kita enggak shalat di Mesjid lagi?” Yusuf menatap Bapak dengan polosnya. Walaupun usianya baru lima tahun, tapi Yusuf cukup pintar mengingat bahwa sudah hampir setahun Mesjid kampung kami sepi dari Adzan. Bahkan kegiatan pada waktu Magrib seperti sebelumnya sudah hilang.

“Kita sholat di rumah saja, ya. Tuh Abang juga di rumah, Ibu sama Uci pun bisa ikut berjama’ah sama kita,” jawab Bapak. Seraya mebenarkan lilitan sarung pada pinggang kecil Yusuf.
“Tapi Yusuf kangen Ustadz Fahri. Iya kan, Bang Sidik? Abang juga kangenkan, sama Tito dan Amir?” Yusuf menatapku, tak kalah polosnya. Ah, kenapa nih anak. Sepertinya Yusuf benar-benar merindukan aktivitasnyadi waktu Magrib.
“Nanti yaa ngobrolnya, sekarang kita sholat dulu. Ayoo Yusuf yang iqomah,” senyum Bapak berhasil membuat Yusuf nurut. Kami pun sholat Magrib berjama’ah. Bapak menjadi Imam. Suara bacaan ayat suci terdengar jelas dan menenangkan, namun jujur sangat jauh dari khusuk. Terutama saat Yusuf menyebut nama Tito dan Amir.

Tapi Ba’da sholat, seperti biasa menuntun Yusuf dan Ucibaca buku Iqro. Jika mereka selesai baru aku menghadap Bapak, menyetor hafalan Al-Qur’an yang Bapak wajibkantiga ayat setiap hari. Kata Bapak, walaupun Ustad Fahri sudah tak ada di kampung, menghafal Al-Qur’an tidak boleh berhenti. Meski Bapak bukan seorang Tahfidz tapi tidak salah menginginkan anaknya menjadi remaja penghafal Al-Qur’an.

“Pak, apakah desa kita akan selamanya seperti ini? Bulan Ramadhan sebentar lagi,” ujarku, murung. Sambil melipat sajadah setelah akhirnya menunaikan sholat Isya. Bapak menghela nafas panjang.
“Bapak juga tidak tau, Nak. Semoga hidayah secepatnya Allah turunkan kepada mereka. Agar kampung kita seperti sedia kala.”
“Aku merindukan semua aktivitasku kala Magrib tiba di Mesjid kita, Pak.” Aku menunduk, sebelum akhirnya pamit masuk ke dalam kamar untuk belajar. Kututup pintu perlahan, karena Yusuf dan Aci terdengar berisik saling bercanda. Diriku pun bukan tak mau gabung, tetapi ada PR dari sekolah.

***“Yang kemaren di’strap sama Pak Ustad, ayoo ngadu hafalan sama aku!” tantang Amir, sambil berkacak pinggang.
“Surat An-Nas malam ini aku setorkan sama Pak Ustdaz! Jangan ngejek, To!” lantangku pada Tito, sengaja memberikan semangat dengan cara berbeda kepada Tito, yang paling susah menghafal hingga sering kena sentil Ustad Fahri.

“Santai aja, tau-tau dia bengong nanti mendengarku setor tiga hafalan surat sekaligus!” ujar Tito. Amir terkekeh.“Paling surat cinta sama Cici. Ahahah …,” ejek Imran. Tito mendelik. Lalu mereka saling kejar sambil terus saling ledek. Aku cuma memandangi tingkah keduanya denan senyum. Setiap sore ketika menunggu Magrib tiba, kami menghabiskan waktu di halaman Mesid. Kadang bermain sambil tetap menghafal ayat-ayat surat pendek.

Hingga pada suatu hari, sekelompok orang datang ke kampung kami. Konon mereka ini para pengusaha emas. Mereka berkeliaran mencari tempat untuk digali. Bahkan mereka mempengaruhi orang-orang kampung dengan cerita bahwa kampung kami potensial dengan emas. Mereka mematok harga tinggi untuk 1 gram emas mentah. Pun bagi warga yang menyewakan tanahnya untuk digali, dibuat sumur ladang emas.

Satu kampung terbuai, satu kampung termakan harta dunia. Warga beramai-ramai mengikuti para pendatang itu. Bahkan sebagian menganggap mereka pembawa rejeki.

Tanpa mereka sadari, tanah kampung mulai bolong di mana-mana. Lalu yang paling menyakitkan adalah ketika mereka membuat Markas tepat di samping Mesjid kami. Karena mereka bilang, mereka butuh sumber air yang bagus untuk membuat rendaman. Lalu sebuah warung kopi pun hidup diantara mereka. Warung yang tidak tau jika bulan puasa tak boleh buka apalagi terang-terangan berjualan camilan. Musik dandut koplo dan sejenisnya diputar dengan volume maksimal. Dan hilanglah hiruk pikuk itu.

Sawah-sawah terlantar, air sungai selalu keruh, 24 jam suara bising mesin generator listrik terdengar memenatkan telinga. Tak ada yang mampu khusuk. Anak-anak yang semula rajin berhafal kini gantiaktivitas. Mereka nongkrong diwarung, menunggu puluhan karung batu datang dan minta direndam. Mereka menjadi kulibagi pendatang yang merusak kampungnya, pun tetap menganggap mereka dewa; sumber rejeki.

Sumur-sumur mulai tak beninglagi. Bau-bau bahan kimia yang mereka gunakan ketika membuat rendaman sepertinya mulai bereaksi pada tanah kampung kami. Tapi mata mereka tetap buta, telinga mereka tetap tuli. Bahkan tak pedili anaknya tak lagi pergi mengaji ada waktu Magrib, yang penting mereka jadi orang kaya dari hasil emas. Begitu kata salah satu dari mereka.

Sampai kapankah mereka akan berkuasa? Jika engkau maha kuasa, mengapa Engkaubiarkan mereka menghilangkan masa depan kami? Kami butuh belajar Ibadah dan mengaji. Tunjukan,Ya Allah. Tunjukkn! Aku berteriak penuh amarah.

“Astagfirullah! Bu …, jaga Uci sama Yusuf sebentar. Sidik! Keluar, Nak. Ada musibah di tempat rendama!” Bapak berteriak dari amben rumah. Aku terkejut. Musibah di tempat rendaman?Aku segera keluar dan menghampiri Bapak yang sudah siap dengan senternya. Beberapa tetangga sudah lewat dengan teriakan dan langkah cepat. Aku pun mengikuti Ayah berlari menuju ke tempat rendaman.

“Innalilahi wainailahi rojiun … Allahu Akbar … ! Angkat yang lainnya! Cari sebelum mereka kehabisan nafas!”Teriakan demi teriakan terdengar semakin ricuh. Tepat di hadapanku, tiga mayat sudah tergeletak. Kubangan rendaman seperti terkena gempa dahsyat. Longsor dengan atap yang menutupinya pun ambruk menutup kubangan itu. Aku menggigil. Kakiku terasa lemas. Kepala pun pusing. Bau menyengat dari bahan yang mereka campurkan sepertinya menjadi pemicu utama mereka meninggal secepat itu ketika terjebak di bawah dalam kubangan yang seperti tergusur ke kedalaman tanah.

“Mungkin Allah sedang menunjukan kekuasaannya” bisik hatiku. Sebelum akhirnyaaku memilih duduk agak jauh dari kerumunan. Mereka para pencuri Magrib kami, mereka yang tidak peduli akan Adzan kami … semoga Allah mengampuni mereka. []

Tentang penulis;Zahraa Senja lahir di Sukabumi pada tahun 1990. Untuk info selengkap sila kontak via fb; Zahraa Senja.

SUMBER: ISLAMPOS.COM

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Raibnya Magrib di Kampung Kami"